logo

Sandiaga: Desa Wisata di Bintan, Salah Satu Terbaik di Indonesia

Bintan – Pengembang desa wisata berbasis alam turut disasar Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Republik Indonesia, Sandiaga Salahuddin Uno dalam program pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif besutannya.

Satu di antara ribuan desa wisata yang menyimpan potensi besar adalah Desa Wisata Desa Ekang Angculai yang terletak di Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.

Desa berbasis alam atau ecowisata itu diungkapkan Sandi merupakan salah satu contoh desa wisata terbaik di nusantara yang pernah dikunjunginya. Karena bukan hanya keindahan alam, infrastruktur maupun fasilitas yang ditawarkan, melainkan adanya kolaborasi antara para pemuda selaku pengelola dengan masyarakat setempat yang mencapai sebanyak 800 kepala keluarga.

“Ada banyak kegiatan dan aktivitas di sini yang melibatkan masyarakat, seperti sepeda, berkuda, olahraga jogging dan pariwisata berbasis alam lainnya. Jadi kalau kita berbicara Bintan, selain dari pada yang besar-besar di Lagoy, ada juga opsi untuk wisatawan domestik untuk merasakan sensasi wisata berbasis alam pedesaan seperti ini,” ungkap Sandi, dalam pernyataan yang diterima detikcom, Senin (25/1/2021)

Tidak hanya itu, Sandi juga menilik asal muasal kawasan hutan yang termasuk dalam Desa Wisata Ekang Angculai. Kawasan hutan yang kini dimanfaatkan beragam jenis kegiatan luar ruangan itu diketahui sebuah hutan karet yang tidak produktif sebelumnya.

Namun, berkat kreativitas para pemuda setempat, hutan karet dimanfaatkan sebagai sarana beragam kegiatan tanpa mengurangi fungsi hutan.

“Kita bisa lihat bahwa ex (bekas) kebun karet ini terkelola dengan baik, dan konturnya tidak diubah-ubah menyesuaikan dengan keadaan alam dan kearifan lokal,” jelas Sandi.

Hal tersebut dibenarkan Wayan, pengelola Desa Wisata Ekang Angculai. Wayan mengakui pengelolaan ecowisata itu unik dibandingkan banyak destinasi wisata alam lainnya di Nusantara. Dirinya sengaja merangkul kalangan pemuda sebagai pengelola, termasuk warga setempat selaku penggerak.

“Pengembangan Desa Ekang ini sangat unik, karena kita berkolaborasi awalnya itu dengan Pokja pemuda desa di sini, pengelolanya tidak ada GM-manager, namanya itu Ketua Pemuda yang kelola ini pak,” ujar Wayan kepada Sandi.

“Harapannya setelah masa Covid-19 ini berakhir kita bisa meningkatkan performa, sehingga kita bisa menerima lagi wisatawan mancanegara, karena wisatawan yang menginap sebelum masa Covid-19 itu sebanyak 70 persen berasal dari mancanegara, terutama dari Perancis,” jelasnya.

Merujuk perkembangan Desa Wisata Ekang Angculai, Wayan mengungkapkan pihaknya kini tengah menggarap ecowisata mangrove bersama Kementerian Kehutanan Republik Indonesia. Pengembangan wisata mangrove tersebut katanya akan dilanjutkan dengan pembangunan sejumlah eco lodge, yakni penginapan ramah lingkungan yang berbasis alam hutan mangrove.

“Ke depannya seperti itu pak,” ujar Wayan kepada Sandi.

Mendengar pernyataan Wayan, Sandi menyampaikan mendukung penuh atas rencana tersebut. Sebab menurutnya, Desa Wisata Ekang Angculai merupakan prototipe yang diharapkanmya dapat direplikasi oleh sejumlah daerah lainnya.

Sebab, lewat kearifan lokal yang melibatkan masyarakat, desa wisata yang dikelola warga desa dan pemuda, karang taruna serta pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) itu berkembang pesat. Lokasinya yang berupa perbukitan dengan hutan karet serta danau dinilainya sangat indah.

“Jadi walaupun penginapan ini bintang tiga, tapi view-nya ini bintang tujuh. Saya lihat fasilitas dan akomodasinya bisa dikatakan salah satu desa wisata yang memiliki standar tinggi, dari segi kelayakannya,” ungkap Sandi.

“Saya juga sudah cek lewat travel online, pencapaian reviewnya delapan-hampir sembilan, topnya itu sepuluh. Semuanya berasal dari wisatawan mancanegara, banyak juga yang kasih angka 10. Jadi itu perlu diapresiasi,” tambahnya disambut tepukan tangan.

Sementara itu, terkait pandemi, dirinya berharap agar pengelola Desa Wisata Ekang Angculai harus dapat beradaptasi. Antara lain dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat lewat K4 dan CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environmental Sustainability).

Sedangkan mengenai pengembangan eco wisata mangrove, termasuk pembangunan eco lodge, Sandi memberikan dukungan penuh.

Karena menurutnya, kedua hal tersebut dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang hendak berkunjung ke Tanjung Pinang.

“Kawasan mangrove dinilai sebagai kawasan yang tinggi akan kandungan oksigennya. Menurut saya, friendly destination seperti ini sangat baik kepada keluarga,” papar Sandi.

“Saya rekomendasi kepada masyarakat untuk berwisata di desa wisata Ekang Anculay yang bisa berdampak kepada peningkatan ekonomi rakyat dan membuka lapangan kerja seluas-luasnya,” ungkapnya.

Sumber : travel.detik.com

 82 total views,  2 views today

Comments are closed.