logo

Warga Mapur Lestarikan Penyu Sisik

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Herman Khaeron dan Dirjen Pengolaan Ruang Laut di Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI Brahmantya Syatyamurti Poerwadi mengaku takjub akan upaya warga Desa Mapur, Kecamatan Bintan Pesisir  yang berjuang melestarikan habitat Penyu Sisik.

Kedua pejabat negara ini juga memberikan apresiasi kepada salah satu warga Desa Mapur, Darmansyah (37) yang dianggap amat peduli terhadap keberlangsungan hidup hewan yang dilindungi seperti penyu sisik ini.
Pasalnya, di Mapur kehidupan penyu tergolong masih terjaga karena kepedulian masyarakat yang luar biasa untuk menjaga keberlangsungan hewan yang tergolong langka itu. Di pulau Busung Mentigi, tempat bertelurnya penyu merupakan kawasan yang amat dijaga warga sekitar. Darmansyah bersama rekan-rekannya begitu peduli menjaga telur penyu yang tertanam di pasir oleh induk penyu hingga telur-telur berubah menjadi tukik/anak penyu.

Darmansyah dihadapan rombongan pejabat dari pusat dan rombongan Bupati Bintan menjelaskan kepeduliannya terhadap kehidupan penyu didaerahnya.

“Selama 2017, ada 17 titik lokasi penyu bertelur disini. Sekarang tinggal 9 titik lagi, ini (Sambil menunjuk sejenis sangkar) kita jaga supaya tukik tidak langsung kelaut, tetapi kita pindahkan ke penangkaran di kampung,” terang Darman, Minggu (14/5).

Menurutnya, apa yang dilakukan bersama rekannya ini merupakan ikhlas untuk melindungi kehidupan penyu didaerahnya. Mendengar keluh kesah warga Mapur, Herman Khaeron merasa prihatin sekaligus takjub. Karena apa yang dilakukan warga Mapur ini sama sekali tidak memberikan dampak ekonomis bagi warga di Mapur.

“Tentu semangat yang seperti ini harus kita apresiasi. Kita akan dorong supaya apa yang dilakukan mereka bisa memberikan dampak kepada mereka, mungkin dengan cara yang diterapkan seperti di Bali sana,” tutur Herman.

Musim penyu bertelur khusus didaerah Mapur mulai masuk di bulan Maret hingga September. Tercatat, sampai dengan saat ini ada 17 titik lokasi penyu bertelur di Pulau Busung Mentigi yang kini amat dijaga warga Mapur. Setelah penyu bertelur dipinggir pantai yang tidak terkena air pasang, telur itu akan menetas selambat-lambat 60 hari.

Oleh warga Mapur, lokasi penyu bertelur akan dijaga dengan memberikan sejenis kotak berjaring agar ketika telur menetas, tukik tidak keburu turun kelaut. Jika sudah jadwalnya menetas, tukik akan dikumpulkan dan diletakkan di penangkaran selama seminggu dipemukiman warga.

“Tadi ada 200 tukik dua jenis yaitu sisik dan penyu hijau yang kita lepas kelaut setelah dirawat warga di penangkaran. Nanti kita akan dorong Dirjen terkait untuk membantu tempat penangkarannya, karena selamaini ternyata penangkarannya hanya di rumah warga Mapur,” kata Herman.

Apresiasi juga disampaikan Dirjen Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut KKP RI Brahmantya Syatyamurti Poerwadi. Bahkan Ia merasa bahagia melihat kepedulian masyarakat khususnya di pulau Mapur yang begitu perduli dengan penyelamatan lingkungan.

“Tentu saya sangat bahagia karena masyarakat di Pulau Mapur begitu peduli dengan penyelamatan lingkungan. Bintan sebagai riwayahnya hewan dugong, pesut serta penyu sisik. Harapan kami tentunya ingin menjadi Mapur sebagai titik konservasi, namun bisa disejahterakan untuk masyarakat disini juga,” beber Brahmantya.

Rombongan selain meninjau lokasi penetasan penyu di pantai Busung Mentigi, rombongan juga sempat meninjau lokasi terumbu karang di Pantai Songseng yang jaraknya sekitar 10 km dari pemukiman warga Mapur. (oxy) haluankepri.com

536 total views, 3 views today

Comments are closed.